Ad Code

Responsive Advertisement

For You

6/recent/ticker-posts

Review Novel Aruna & Lidahnya (oleh Laksmi Pramuntjak)

Sebagai orang Aceh, baru kali ini aku membaca karya fiksi yang kejadiannya 100% sama persis tentang fakta di Aceh. Ada penulis yang aku baca, dia seperti hanya riset di permukaannya saja, lalu mengemukakan opini yang kurang akurat, dan membuatku jadi kurang sreg.

Tapi novel Aruna & Lidahnya ini berhasil membuatku terharu. Terima kasih sebelumnya untuk penulisnya, Laksmi Pamuntjak, yang telah menceritakan sisi-sisi Aceh, mulai dari kulinernya hingga keadaan sekitarnya. Terima kasih banyak.

Judulnya sangat unik, yang membuatku memutuskan untuk membacanya. Novel ini sudah terbit cukup lama, tapi tulisannya sangat mengikuti perkembangan zaman. Mari kita bahas mengenai novel Aruna & Lidahnya lebih dalam di sini!

Tentang Apa sih Novel Aruna & Lidahnya?

Novel Aruna & Lidahnya mengajak kita jalan-jalan keliling Indonesia bareng Aruna, seorang epidemiologi yang hidupnya berkutat dengan data wabah, angka kematian, dan laporan resmi yang kaku. Tapi di sela-sela tugas negara itu, Aruna justru menemukan pelarian bersama dua sahabatnya, Bono dan Nadezdha untuk hunting makanan di berbagai tempat.

Tidak hanya Aruna yang menjadi perwakilan kantornya untuk memeriksa kasus flu unggas di beberapa provinsi itu. Ada Farish juga dengan karakternya yang datar, tapi lama kelamaan turut membaur dengan para sahabat Aruna.

Perjalanan bisnis Aruna yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan, karena flu unggas kan cepat menular, malah menjadi sedikit menghibur dengan selingan trip kuliner mereka. Namun, siapa sangka perjalanan yang penuh lika-liku tersebut malah membuka kesempatan Aruna untuk menikmati apa itu cinta.

Plus & Minus Novel Aruna & Lidahnya

Setiap novel tentu memiliki hal yang paling mengesankan dan hal yang kurang disukai oleh pembacanya. Meski novel dengan rating sempurna sekalipun, tentu dua poin ini ada. Berikut adalah plus dan minus dari novel Aruna & Lidahnya menurutku.

1. Hal yang aku sukai dari novel ini

  • Aku menyukai gaya menulisnya yang mudah sekali kupahami. Walau ini bukan novel ringan, tapi penjelasannya yang sederhana membuatku tetap melanjutkan mmebaca.
  • Pemaparan tentang kondisi dan kuliner di Aceh sangat akurat. Aku senang dengan penulis yang melakukan riset mendalam.

2. Hal yang tidak kusukai dari novel ini

  • Tidak ada konflik intens, jadinya memang gak semenegangkan itu.
  • Aku tidak suka dengan pola pikir kumpul kebo, terlebih penulis menyajikan setelah keputusan Aruna kumpul kebo malah dia makin dekat sama ibunya.

Review Aruna & Lidahnya

Novel Aruna & Lidahnya ini terbit sudah dari tahun 2014 silam. Sudah difilmkan juga dan dapat disaksikan di platform Netflix dan Viu. Pemainnya ada Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Oka Antara, dan Hannah Al Rasyid.

Dari yang sudah aku baca, ide cerita ini cukup menarik, di mana ketika si Aruna ini harus berkutat sebagai pakar epidemiologi yang sangat penuh keseriusan punya sisi lain, yaitu hobi mencicipi makanan dari berbagai daerah.

Tapi, menurutku judulnya tidak cocok dengan isi novel ini. Memang ada beberapa topik kuliner, tapi yang aku baca malah lebih fokus mengurus flu unggas. Kayaknya lebih cocok Aruna & Flu Unggasnya? Beneran yang part Aruna nyicip-nyicip itu cuma selingan.

Aku bahkan mengira dia bakal buat blog atau vlog tentang makanan atau sejenisnya lah. Atau mungkin dia akan jatuh cinta sama sahabatnya yang chef. Ternyata tebakanku salah. Judul ini tidak merepresentasikan isinya.

Karakter Aruna lumayan bagus, walau beberapa cara berfikirnya kurang pas denganku, ya. Cuma, Farish yang harusnya jadi Man Lead ini malah kayak figuran. Dia gak banyak ikut andil. Eh, tapi apa emang figuran ya? Eh, maksudnya tokoh pendukung.

Gak dijelaskan alasan jelas kenapa percintaan bisa terjadi. Plotnya terasa hambar, gak ada konflik yang panas atau cukup pelik. Bahkan di saat Aruna tau dia dikhianati orang yang disukainya, dia malah biarin aja. Terus, tiba-tiba banget kecelakaan pesawat dan mati? Agak gimana gitu, ya.

Hal yang paling aku sukai adalah gaya penulisannya yang bagus. Terlihat jelas beliau sudah cukup banyak jam terbangnya dan sering menulis. Btw di sini aku posisinya belum pernah baca karya beliau yang lain dan tidak mengenal beliau sebelumnya. Aku cukup enjoy karena gaya penulisan yang bagus ini. Mungkin kalau terlalu pelik, bakal membosankan sih.

Bisa dibilang ini happy ending. Tapi, happy dari apa? Dari Aruna yang dulunya jomblo sekarang gak jomblo lagi? Kan, aku bilang juga apa, judulnya gak merepresentasikan isinya. Aku cukup kecewa dengan keputusan yang dibuat Aruna & Farish di akhir novel ini. Tapi, ya… sudahlah.

Baca juga: Review Novel Katarsis karya Anastasia Aemilia yang Dijadikan Series oleh Netflix

Saran aku, baca novel ini jangan dibarengi sama novel lain karena akan terdistraksi. Aku seorang multireader, tapi aku sarankan ini dibaca khusus saja di waktu luang, bukan untuk digabung dengan novel lain. Tidak disarankan dibaca oleh anak-anak atau remaja, ya. Asli gak cocok, mudah bosan menurutku.

Rekomendasi Buku dengan Vibe yang Sama

Novel Aruna & Lidahnya memang cukup unik. Gabungan antara bahasan makanan + kasus kesehatan yang sangat serius + percintaan + refleksi kehidupan dalam satu buku ini sulit ditemukan dalam novel lain. Namun, tentu ada beberapa buku yang memiliki vibe yang serupa dalam beberapa segi. Yuk, cek daftarnya di bawah ini!

1. Madre karya Dee Lestari

Yuk, baca di sini!

Sinopsis:

Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, Nenek saya seorang penjual roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre. Terdiri dari 13 prosa dan karya fiksi, Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.

2. Namaku Alam karya Leila S. Chudori

Sinopsis:


Inilah yang kubayangkan detik-detik terakhir Bapak:

18 Mei 1970.

Hari gelap. Langit berwarna hitam dengan garis ungu. Bulan bersembunyi di balik ranting pohon randu. Sekumpulan burung nasar bertengger di pagar kawat. Mereka mencium aroma manusia yang nyaris jadi mayat bercampur bau mesiu. Terdengar lolongan anjing berkepanjangan. Empat orang berbaris rapi, masing-masing berdiri dengan senapan yang diarahkan kepada Bapak. Hanya satu senapan berisi peluru mematikan. Selebihnya, peluru karet. Tak satu pun di antara keempat lelaki itu tahu siapa yang kelak menghentikan hidup Bapak.

***

Pada usianya yang ke-33 tahun, Segara Alam menjenguk kembali masa kecilnya hingga dewasa. Semua peristiwa tertanam dengan kuat. Karena memiliki photographic memory, Alam ingat pertama kali dia ditodong senapan oleh seorang lelaki dewasa ketika masih berusia tiga tahun; pertama kali sepupunya mencercanya sebagai anak ‘pengkhianat negara’; pertama kali Alam berkelahi dengan seorang anak pengusaha besar yang menguasai sekolah; dan pertama kali dia jatuh cinta.



Yuk, baca di sini!

Sinopsis:


Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.




Posting Komentar

0 Komentar