Ad Code

Responsive Advertisement

For You

6/recent/ticker-posts

Kenapa Ide Cerita yang Bagus Belum Tentu Jadi Karya yang Bagus?

Modal utama untuk mulai menulis sebuah novel adalah memiliki ide cerita yang bagus. Ya, gak mungkin dong kamu lebih memilih ide cerita yang buruk, dari pada yang bagus.

Hanya saja, ternyata ide cerita yang bagus itu belum tentu berubah menjadi sebuah karya yang bagus. Karya yang bayak disukai banyak orang. Karya yang best-seller. Sebenarnya di sini ada beberapa alasannya yang pasti banyak penulis juga mengalaminya. Yuk, simak daftar di bawah ini!

1. Tidak Melakukan Riset yang Mendalam

seorang penulis sedang melakukan riset. (pexels.com/William Fortunato)

Ini adalah kesalahan fatal bagi penulis. Memang, untuk menciptakan novel yang perlu kamu lakukan adalah menulis dan menulis. Hanya saja, kamu juga perlu melakukan beberapa penelitian di belakangnya.

Adapun riset yang perlu dilakukan, seperti riset tentang tokoh, riset untuk latar, dan beberapa sejarah (jika kamu menggunakannya). Kamu menggunakan tokoh Malin Kundang, tapi menuliskan kalau dia berasal dari Jawa Barat? Kamu telah melakukan kesalahan besar!

Baca juga: 3 Tips Tetap Konsisten dalam Menulis

Kamu ingin menuliskan tentang makanan khas Papua, tapi malah tidak tahu apa bahan dasar pembuatannya? Aku yakin, kamu akan ditandai sebagai penulis yang malas. Riset yang mendalam akan membuatmu menciptakan karya yang lebih terasa hidup dan menarik.

2. Cara Menulis Masih Biasa-Biasa Saja

 seseorang sedang mengetik dengan mesin tik jadul (pexels.com/Min An)

Tidak dapat dipungkiri seberapa menarik pun sebuah karya, kalau ditangan seorang yang masih belum profesional, tentu hasilnya akan biasa-biasa saja. Mari kita lihat yang sering ditonton saja, sebut saja Drama Korea, padahal permasalahannya sudah sangat menarik, tapi tiba-tiba kok jalan ceritanya cringe begitu? Kok aneh? Kok tiba-tiba datar?

Nah, seperti itu gambarannya.

Kamu tidak bisa langsung menjadi penulis hebat dalam satu malam. Perlu latihan secara konsisten untuk mencapainya. Ya, walaupun di awal tidak dapat menciptakan karya bagus dengan ide cerita yang brilian, tapi setidaknya saat itu kamu sudah belajar. Karya selanjutnya pasti tulisanmu sudah jauh lebih berkembang.

Saat itulah kamu bisa memutuskan ingin merevisi ide bagus itu kembali, atau mencari ide bagus lain untuk menciptakan karya yang memukau.

3. Salah Target Pasar Penjualan

kumpulan komunitas baca (pexels.com/Yan Krukau)

Aku yang pecinta thriller, kemungkinan besar akan menganggap karya drama perselingkuhan itu tidak bagus. Kamu yang pecinta romance, kemungkinan besar menganggap karya yang horor itu kurang menarik. Itulah yang dinamakan salah target pasar.

Agar karyamu dianggap bagus, kamu harus menunjukkan kepada orang yang menyukai genre serupa. Masuk ke dalam lingkungan anak SMP dan SMA kalau kamu menulis genre young adult. Masuk dan racuni mereka agar karyamu dibaca.

Walaupun ada orang dewasa yang juga menyukai genre YA, namun ini susah diprediksi siapa orangnya. Dengan adanya sebuah lingkungan atau komunitas, orang dewasa itu kemungkinan juga akan ikut bergabung untuk menemukan bahwa karya yang kamu ciptakan itu bagus.

Baca juga: Jalan Ninja Mendapatkan Ide Nulis dengan Gampang

Menjadi penulis memang terkadang susah, terkadang gampang (walau entah bagian mananya yang gampang). Bermodal ide yang sangat luar biasa tidak dapat membuatmu menjadi penulis terkenal. Bahkan jika idemu dan Dee Lestari itu sama, aku yakin novel yang dihasilkan akan berbeda.

Namun, dengan memperbanyak latihan dan konsisten menulis, siapa tahu karyamu bisa melampaui penulis Aroma Karsa itu kan? Siapa yang tahu. Yuk, atur jadwal menulismu sekarang untuk menjadi konsisten seperti para penulis hebat itu! 

Posting Komentar

0 Komentar