Siapa orang yang sangat kamu rindukan sekarang, tapi sudah
gak ada lagi di dunia? Kalau ada cara untuk menemui mereka, kamu mau? Aku juga
mau. Aku sangat merindukan kakekku sekarang. (Yah, nulis ini sambil nangis
deh).
Andai Halte Alam Baka yang dalam novel ini benar-benar ada
di dunia nyata. Para tokoh di dalam ini berhasil mengucapkan hal yang belum
sempat mereka ucapkan karena bisa bertemu kembali dengan orang yang sudah
meninggal di halte ini.
Penasaran gak sih apa saja yang disediakan di halte goib ini
dan bagaimana cara menemukannya? Kali aja kamu juga bisa melihatnya di dunia
nyata, who knows.
Tentang Apa sih Novel Halte Alam Baka?
Aku merasa penulisnya sudah memprediksikan bahwa orang-orang
akan berpikir bahwa tulisan tentang nenek tua di halte merah itu akan membosankan
bagi para pembaca. Bahkan di bab awal novel ini sudah disebutkan begitu oleh
percakapan dua wartawan bernama Julian dan Dewa.
Tapi, cerita tentang nenek perajut di halte merah yang
dikenal sebagai Halte Alam Baka ini ternyata membawa kisah yang sangat menarik.
Nenek ini akan mempertemukan anak terbuang dengan keluarganya lagi.
Nenek ini akan membuat seorang ibu yang sesaat kalap dengan
jabatan jadi sadar lagi. Nenek ini memberikan kesempatan kepada banyak orang
untuk memberitahukan penjelasan yang tak sempat mereka lakukan saat masih
bersama.
Novel ini mencampurkan kisah di tahun 1900-an dan tahun 2000-an. Bukan sekadar latar tahun yang berbeda, tetapi beberapa kejadian di tahun itu
juga ikut diceritakan, seperti krisis moneter.
Plus & Minus Novel Halte Alam Baka
Novel yang memiliki kisah yang cukup kompleks antara banyak
orang ini sesungguhnya cukup menyentuh hati. Beberapa adegan membuatku
menangis. Beberapa adegan membuatku tertawa. Ada beberapa plus dan minus
menurutku di novel Halte Alam Baka ini, seperti:
1. Hal yang aku sukai dari buku ini
- Deskripsi keadaan sangat kaya dan detail. Ibarat kamu berjalan di kompleks, bahkan tetangga lagi jemur celana aja bisa kamu tahu dengan deskripsi ini saking nyatanya.
- Meski ini novel fantasi, segala adegan-adegannya terasa nyata dan masuk akal. Entahlah. Kayak haltenya memang pernah ada di dunia nyata.
- Gaya tulisannya sangat mudah dipahami. Best part sih. Aku suka sekali tulisan Kai Elian. Beliau seperti selalu bertumbuh dari karya awal, Vermilion Rain, sampai ini.
2. Hal yang tidak kusukai dari buku ini
- Ada satu adegan yang kurang aku sukai, yaitu ketika Sandra dan Julian itu ngungsi ke satu rumah. Bahkan Sandra memperkenalkan Julian kepada tetangganya. Entahlah, aku kurang suka karena memang kan digabung sama tahun 19-an, di mana adat malu untuk tinggal serumah antara cewek dan cowok itu masih tinggi.
- Adegan Julian kabur saat ada penguntit itu agak cepat. Padahal belum diapa-apain, tapi sudah kabur aja si Julian.
Review Halte Alam Baka
Satu hal yang aku langsung terpikirkan setelah membaca novel ini adalah bahwa karma perbuatan jahat seorang ayah akan ditanggung oleh anak perempuannya. Ya, di novel Alam Baka ada seorang laki-laki yang menghamili
kekasihnya. Walaupun dia mau bertanggung jawab, kehidupan mereka sudah
berbeda sejak pengungkapan kehamilan itu. Semuanya menderita.
Anaknya? Anaknya menjadi wanita simpanan, hamil di luar
nikah, dan dicampakkan oleh kekasihnya. Ide cerita yang sungguh menarik
digabungkan menjadi satu untuk memperbaiki segala kesalahan orang tua
yang telah berzina kala itu.
Para karakter yang dihadirkan juga bisa langsung
menancap di kepala pembaca karena memang semuanya khas. Penulisnya keren, bisa mengaitkan semuanya menjadi satu dan mengeksekusi beberapa di antaranya dengan cara yang natural.
Adegan-adegan mencekam saat pemberontakan pada krisis
moneter akan membuat kamu tegang, karena aku merasakan itu. Plotnya yang cukup kompleks adalah inti dari keseruan membaca novel ini. Jadi, bukan
hanya tentang si nenek rajut yang duduk di halte merah, ya.
Menurutku ini bukan novel yang ringan, karena banyak adegan
cukup mencekam. Tapi, karena gaya penulisannya yang menurutku gak
belibet, kelihatan ringan dan sederhana sehingga nyaman sekali dibaca.
Novel ini memiliki ending yang selesai dengan baik.
Semua permasalahan terselesaikan dan semua bahagia. Ya, happy ending.
Tidak perlu khawatir ada yang terluka, ya. Karena sepertinya fokus di sini
adalah memberikan amanat tentang bagaimana keluarga pada akhirnya saling
memaafkan dan menerika sih.
Halte Alam Baka ini adalah tipe novel yang cocok dibaca oleh kamu yang suka dengan kisah konflik zaman dulu dan permasalahan keluarga. Tapi, sebaiknya tidak dibaca oleh anak-anak, ya soalnya ada pembunuhannya.
Kira-kira kalau kamu bisa menemukan halte merah dengan nenek perajut, siapa yang ingin kalian temui dan apa yang ingin kamu sampaikan pada roh itu?
Rekomendasi Buku dengan Vibe yang Sama
Aku berpikir sebentar untuk memutuskan buku-buku apa saja
yang mirip dengan Halte Alam Baka. Akhirnya, aku menemukan beberapa di
antaranya. Meski tidak persis sama, beberapa bagian aku pikir mereka cukup satu
frekuensi.
1. Journal of Terror – Pusaka karya Sweta Kartika
Prana dan Sukma.
Dua sepupu yang baru saling mengenal usai menerima warisan
pusaka keris kembar itu harus berangkat bersama dalam sebuah misi mendesak
untuk menerima wasiat lanjutan di makam mendiang kakek mereka.
Makam yang sungguh tak biasa. Keduanya harus mendaki jauh ke
Gunung Lawu sebelum masa peralihan bulan mati demi menembus gerbang gaib Desa
Kemit, tempat persemayaman terakhir sang kakek.
Di tengah ketidakpastian karena minimnya pengalaman dan
berbekal peralatan pendakian pinjaman, muncullah sosok penolong berpenampilan
mencurigakan bernama Umbu.
Siapakah ia? Penolong atau justru penghalang? Misi penting
apa sebenarnya yang dipercayakan mendiang sang kakek kepada Prana dan Sukma?
2. Laut
Bercerita karya Leila S. Chudori
Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama mengambil
sudut pandang seorang mahasiswa aktivis bernama Laut, menceritakan bagaimana
Laut dan kawan-kawannya menyusun rencana, berpindah-pindah dalam pelarian,
hingga tertangkap oleh pasukan rahasia. Sedangkan bagian kedua dikisahkan oleh
Asmara, adik Laut. Bagian kedua mewakili perasaan keluarga korban penghilangan
paksa, bagaimana pencarian mereka terhadap kerabat mereka yang tak pernah
kembali.
Buku ini ditulis sebagai bentuk tribute bagi para aktivis
yang diculik, yang kembali, dan yang tak kembali dan keluarga yang terus
menerus sampai sekarang mencari-cari jawaban. Novel ini merupakan perwujudan
dalam bentuk fiksi bahwa kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh melupakan
sejarah yang telah membentuk sekaligus menjadi tumpuan bangsa Ini.
Novel ini juga mengajak pembaca menguak misteri-misteri
bangsa ini yang mana tidak diajarkan di sekolah. Walaupun novel ini adalah
fiksi, laut bercerita menunjukkan kepada pembaca bahwa negeri ini pernah
memasuki masa pemerintahan yang kelam.
3. Tentang
Ziarah yang Terkutuk karya Sesuji
Kobayashi, seorang editor lepas, mengajukan sebuah proposal
ke penerbit berupa rencana pembuatan fanbook untuk kanal Occult Yankee milik
YouTuber penjelajah tempat angker, Chanike (alias Ikeda).
Namun, jumlah subscriber kanal Occult Yankee masih dirasa
kurang meyakinkan sehingga persetujuan untuk proposal itu masih sulit untuk
didapatkan. Demi menutupi kekurangan tersebut, Kobayashi dan Ikeda memutuskan
untuk membuat konten fanbook yang lebih menarik. Mereka pun mengumpulkan data
tambahan dari tempat-tempat angker yang pernah dibahas dalam video Chanike
sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan dari internet
dan sumber lain, Kobayashi dan Ikeda mulai mengarang berbagai teori yang sekiranya
akan disukai oleh pembaca.
4) Rumah
Amuk karya Eve Shi
Josie harus tinggal di rumah calon suami baru ibunya yang
bernama Harlan, seorang duda beranak dua. Ibu Josie memutuskan menikah lagi dan
membawa serta Josie menuju kediaman Harlan. Namun, sejak awal kepindahannya,
Josie merasa tidak tenang. Dengan kepekaan yang dia miliki sejak kecil, Josie
dapat merasakan bahwa ada penghuni lain di rumah itu.
Seorang gadis misterius berjari hitam. Bayangan rambut hitam
panjang di dinding. Selain itu, masih ada sesuatu yang membuat Josie terusik:
misteri kematian istri dan anak sulung Harlan.
Bagi Josie, semuanya mengarah ke satu pertanyaan. Apakah
kehidupannya bersama keluarga baru ini akan menjadi awal malapetaka?


0 Komentar
Komen yang halus-halus aja, ya...